October 21, 2020

Ketenangan Di Balik Sehelai Kain Batik

Ketika persoalan batik diakui oleh Malaysia sebagai warisan budaya rakyatnya, saya tidak serta merta ikut menghujat, tapi saya mencoba melihatnya dari gambaran yang lebih besar. Ternyata, setelah diamati sekian lama, permasalahan tersebut muncul akibat ketidaktahuan masyarakat Indonesia tentang kain batik itu sendiri. Masih jarang masyarakat kita mengetahui teknik pembuatannya, pengertian batik, apalagi filosofi dan sejarah yang ditulis melalui motif. Hal ini tidak lain karena kurangnya pembelajaran budaya dalam sistem pendidikan kita dan kurangnya pengelolaan dan pelestarian arsip budaya Indonesia yang sangat besar.

Dahulu masyarakat kita mencatat sejarah dan budaya pada daun lontar atau candi yang dapat dihancurkan dan tidak bertahan hingga akhir hayat. Dalam darah kita, kita memiliki sedikit niat untuk melestarikan. Pikirkanlah karena kekayaan alam Indonesia memanjakan sebagian orang sehingga terasa memuaskan.

Begitu masalah muncul, saya mulai melakukan tindakan kecil secara bertahap dimulai dari diri sendiri, yaitu lebih sering memakai batik. Dilanjutkan dengan penelitian dan observasi mendalam pada kain batik wanita di berbagai pelosok tanah air hingga membuat buku tentang cerita dibalik motif masing-masing. Ilmu yang didapat membuat saya sulit menyebut motif batik yang menarik. Ya, karena semua kain punya cerita yang luar biasa.

Misalnya Batik Tiga Negeri diproduksi di tiga kota yaitu Lasem, Pekalongan dan Solo. Setiap kota memiliki kontribusinya sendiri dalam mewarnai dan tidak dapat dipindahkan ke kota lain. Begitu pula dengan kain Galuh Manten yang memiliki pesan yang sangat luhur. Kain ini diberikan kepada seorang anak yang baru saja menikah dan akan menghabiskan malam pertamanya. Kontribusi kain ini diyakini sebagai simbol persatuan pria dan wanita dalam perkawinan antara dua keluarga, sebagai tanda persahabatan dan cinta serta untuk melanjutkan nama baik kedua belah pihak. Ah, hampir semua kain batik mengandung cerita yang luar biasa dan rumit.

Kain dengan corak yang sederhana pun memiliki makna yang dalam. Misalnya kain kawung dengan pola ulangan empat sisi. Meski kedengarannya sangat sederhana, filosofi di balik kain ini menceritakan tentang siklus kehidupan di mana manusia memulai dari satu titik dan kembali ke titik itu. Setelah selesai, terdapat lubang kosong di tengahnya sebagai simbol penyatuannya dengan Sang Pencipta. Hingga kain ini menyampaikan analogi dari titik awal hingga akhir kehidupan.

Tak ketinggalan kisah warga sekitar yang mendasari keberadaan setiap kain di daerah atau kota seperti Batik Besurek di Sumatera. Keberadaan batik ini menyiratkan perkawinan dua adat istiadat: Jawa dan Sumatera dimana batik Jawa dibawa ke Sumatera, menikah dengan membuat kain dan motif di Sumatera untuk memperlancar sistem perekonomian penjual kain batik di Sumatera. Oleh karena itu secara tidak langsung batik merupakan cerminan dari sejarah atau sosiologi masyarakat yang kita pakai sehari-hari. Jika kita melihat kain batik, kita melihat suatu budaya yang berasal dari daerah tertentu.

Tidak berhenti sampai disitu, batik yang menjadi objek kain akan menjadi seperti karya seni. Bayangkan kita berada di pameran seni dan kemudian kita melihat di depan sebuah karya, seperti lukisan. Ada energi yang disalurkan dari melukis ke indera penglihatan. Melalui karya seni yang mereka hasilkan, para seniman beresonansi dengan penonton untuk membentuk chemistry antara lukisan dengan pikiran dan hati penonton. Inilah yang akan terjadi jika kita menyentuh kain batik. Ada chemistry yang terasa dengan menyentuh kain, melihat warna dan cerita di balik setiap pola yang Anda dengar. Hal inilah yang secara tidak langsung akan melengkapi proses terapi melalui kain batik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *