October 21, 2020

Pengembangan Batik Modern Melalui Pendidikan Formal

Kata batik berasal dari bahasa jawa “amba” yang artinya tulisan dan “nitik”. Kata batik sendiri mengacu pada teknik membuat pola – menggunakan canting atau cap – dan pewarnaan kain menggunakan warna penghalang “lilin” yang dioleskan pada kain, sehingga pewarna tidak masuk. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resistant dyeing. Oleh karena itu, kain batik merupakan kain yang memiliki ragam ornamen atau corak yang dibuat dengan huruf miring dan perangko menggunakan malam sebagai pembatas warna.

Teknik ini hanya dapat diterapkan pada bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak dapat diterapkan pada kain dengan serat buatan (poliester). Kain yang corak dan warnanya tidak menggunakan teknik ini bukanlah kain batik. Batik telah ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai budaya asli Indonesia dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni yang tinggi dan telah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa).

Batik yang merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya memiliki nilai-nilai tradisional, baik dalam proses maupun ragam hiasnya. Kegiatan adat juga berkembang dalam proses pembatikan yang diproduksi di dalam kraton dan di luar tembok kraton, umumnya pengerjaan dilakukan dengan sistem tradisional. Memiliki nilai-nilai tradisional karena prosesnya berlangsung dari generasi ke generasi tanpa mengubah sistem. Komunitas pengrajin batik di setiap daerah di Indonesia turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. (Tim Peneliti IKIP Malang, 1990)

Namun pada era global ini perkembangan batik khususnya batik modern berkembang pesat. Baik dari segi motif yang lebih berkaitan dengan model batik kontemporer maupun teknik produksi mesin produksi massal yang dimulai. Hal ini dikarenakan tuntutan pasar yang menuntut perkembangan dalam dunia seni batik tidak hanya sebatas corak dan warna saja, tetapi juga pada tata busana, fungsi dan proses pembuatannya. Jadi busana batik tidak hanya monoton dan tradisional, seperti dalam bentuk kain atau jersey, tetapi juga berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Hingga batik modern Indonesia mampu bersaing tidak hanya di pasar dalam negeri tetapi juga di pasar internasional.

Sebelum adanya keputusan Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tentang batik sebagai warisan budaya dunia, batik sudah memiliki penggemarnya di kalangan masyarakat Indonesia. Untuk batik tradisional atau biasa disebut batik tulis relatif lebih mahal karena dari segi kualitas biasanya lebih baik, mewah dan unik akan menjadi pilihan bagi kalangan menengah ke atas, sedangkan batik printing menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah karena harganya yang relatif. lebih murah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *