October 21, 2020

Teco (Harusnya) Tak Boleh Melatih di Liga 1

Bali United memulai perjalanan Liga Champions Asia 2020 (babak kualifikasi) dengan masalah. Menurut CloverQQ juara Liga 1 2019 tidak bisa ditemani pelatih Stefano Teco Cugurra. Pasalnya, AFC telah menetapkan izin manajemen Teco tidak memenuhi standar pelatihan Liga Champions Asia 2020.

Kabar tersebut diumumkan oleh Bali United melalui situs resminya. Sontak penonton dibuat takjub, bukankah pelatih Teco Persija, Teco Persija di Piala AFC 2018? Musim lalu Persia yang menjadi juara Liga 1 2018, bukankah ia juga bermain di babak kualifikasi Liga Champions Asia 2019?

Untuk pertanyaan kedua mudah dijelaskan kenapa Teco pindah ke Bali United sejak Januari 2019. Saat pertarungan Persia melawan Home United pada 5 Februari, Kemayoran Tigers di asuh oleh Ivan Kolev yang notabene disahkan oleh UEFA Pro.

Sedangkan pertanyaan pertama adalah topik perbincangan hangat di media sosial. Teco membawa Persia ke semifinal Piala AFC 2018 di kawasan ASEAN, dieliminasi oleh Home United. Pertanyaan yang cukup menggema adalah “apakah standar latihan di Piala AFC dan ACL berbeda?”.

Teco adalah pelatih Brasil dengan lisensi kepelatihan A. Lisensi itu cukup untuk memimpin Piala AFC. Meski di Liga Champions Asia, pelatih resmi A sempat berlatih, tapi kini ia tak bisa lagi.

Dalam dokumen Manual Operasional Kompetisi 2019 yang merupakan manual kompetisi di bawah naungan AFC disebutkan bahwa mulai tahun 2020, setiap klub yang bermain di Liga Champions AFC harus dipimpin oleh seorang manajer berlisensi Pro. Sementara itu, untuk Piala AFC, izin minimal manajer untuk manajer akan berlanjut hingga 2022.

Jadi sebenarnya bukan lisensi Teco yang bermasalah, tapi ada perubahan aturan AFC yang membuat lisensinya tidak sesuai dengan standar AFC Champions League. Padahal, karena perubahan ini, tak hanya Teco, pelatih lain seperti Mario Gomez yang memiliki lisensi A pun akan mengalami masalah yang sama jika timnya bermain di Liga Champions AFC.

Namun Bali United harus tahu. Atau, kalau tidak tahu, pasti sudah mendapat pemberitahuan dari PSSI sejak lama tentang masalah ini. Perubahan aturan Liga Champions AFC tentang standar latihan tidak dilakukan secara tiba-tiba. Sebagaimana disebutkan di atas, aturan ini mengacu pada standar yang ditetapkan oleh AFC pada 2019.

PSSI sendiri telah mengatasi masalah lisensi kepelatihan ini dengan menambah jumlah pelatih Indonesia yang memiliki lisensi AFC Pro. Saat ini terdapat 20 pelatih Indonesia dengan lisensi kepelatihan tertinggi di Asia.

Hal menarik muncul ketika Rudy Eka Priyambada, trainee berlisensi AFC Pro Indonesia, mengunggah foto ketentuan lisensi kepelatihan PSSI untuk standar pelatihan kompetisi Indonesia di semua bagian melalui akun Facebook-nya. Di sini dinyatakan bahwa pada tahun 2020, klub Liga 1 harus memiliki pelatih kepala berlisensi Pro.

Dalam komposisi pelatih Liga 1 2020, selain Teco, ada dua pelatih lain yang sebenarnya bukan pemegang lisensi Pro, yakni Mario Gomez (Arema FC) dan Hendri Susilo (Persiraja). Sisanya, dikumpulkan dari berbagai sumber, sudah memiliki lisensi Pro Strata, termasuk pendatang baru seperti Paul Munster (Bhayangkara FC), Edson Tavares (Borneo FC), Sergio Farias (Persia), Igor Kriushenko (Persikabo) dan Bojan Hodak (PSM). . Dua klub promosi lainnya, Persita dan Persik, dilatih oleh pelatih AFC Pro berlisensi; Widodo Cahyono Putro dan Joko Susilo.

Faktanya, terkadang lisensi manajer tidak menjamin bahwa manajer lebih besar dari manajer berlisensi di bawahnya. Tapi aturannya tetap aturan dan harus diikuti.

Apa yang dilakukan PSSI tepat untuk menghindari masalah seperti yang dialami Bali United di Liga Champions Asia musim ini ke depan. Apresiasi tinggi juga diberikan kepada sebagian besar klub Liga 1 yang telah bekerja untuk memenuhi persyaratan tersebut hingga saat ini klub Liga 1 dibina oleh pelatih berlisensi tertinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *